***

***

Ads

Amazon


Kamis, 04 Agustus 2011

Asmara Berdarah Jilid 058

BACK

San-hai-koan telah menjadi kota benteng pemberontak. Pintu gerbangnya dijaga oleh pengawal-pengawal pasukan pemberontak dan setiap orang yang memasuki kota itu tentu akan digeledah dan diperiksa. Penjagaan amat ketat. Selain San-hai-koan, juga dusun-dusun di sekitar daerah itu telah diduduki pasukan pemberontak.

Pada suatu pagi, San-hai-koan didatangi tiga orang tamu yang disambut dengan amat hormat. Bahkan begitu tiba tiga orang itu diterima di dalam markas. Panglima Ji Sun Ki lalu mengadakan perjamuan kehormatan dan dalam kesempatan ini Raja dan Ratu Iblis sendiri ikut hadir!

Siapakah tamu-tamu yang amat dihormati itu? Mereka bertiga kini sudah berada di dalam sebuah ruangan yang luas, menghadapi meja besar panjang, berhadapan dengan Ji Sun Ki sendiri yang berpskaian panglima gemerlapan. Pangeran Toan Jit Ong berpakaian agak pantas, berwarna kuning gading, akan tetapi rambutnya yang putih itu tetap saja riap-riapan, mukanya yang kehijauan nampak serius dan hanya jenggot kumis yang pendek terpelihara rapi itu yang membuat dia nampak agak pantas. Isterinya juga hadir, pakaiannya juga putih dan kuning kainnya baru dan bersih, akan tetapi rambutnya juga masih riap-riapan. Suami isteri ini duduk dengan sikapnya yang angkuh di sebelah kanan Panglima Ji yang amat menghormati mereka. Di sebelah kiri panglima itu duduk lima orang panglima pembantu dan di deretan lain duduklah orang-orang aneh yang sikapnya menyeramkan. Mereka adalah orang-orang Cap-sha-kui yang kini sudah berkumpul dan menjadi pembantu-pembantu Raja Iblis. Nampak Koai-pian Hek-mo, kakek berusia enam puluh lima tahun yang tinggi besar dan bermuka hitam, mata bulat dan hidungnya besar, mulutnya lebar tertutup kumis dan jenggot yang brewok. Di punggungnya nampak sebatang cambuk baja yang panjang dan ujungnya dipasangi paku. Di sebelahnya duduk Hwa Hwa Kui-bo, nenek berusia lima puluh empat tahun yang mukanya memakai kedok hitam dan yang nampak hanya mata, hidung dan bibir saja. Mulutnya besar dan buruk, tubuhnya ramping dan di punggungnya tergantung sebatang pedang. Koai-pian Hek-mo dan Hwa Hwa Kui-bo ini adalah tokoh-tokoh muara Huang-ho dan merupakan tokoh Cap-sha-kui yang terkenal.

Kemudian nampak pula Tho-te-kwi (Setan Malaikat Bumi), kakek raksasa yang usianya sudah enam puluh tahun lebih. Kakek ini amat menyeramkan, tingginya satu setengah orang biasa, perawakannya serba besar. Pakaiannya hijau agak utuh, tidak compang camping seperti biasanya, kaki tangannya memakai gelang emas yang besar dan berat. Kakek peranakan Nepal bekas pendeta Lama ini duduk melenggut, sikapnya tidak perduli. Masih nampak lagi empat orang laki-laki berusia antara lima puluhan tahun yang pakaiannya seragam seperti orang-orang dari satu pasukan. Semua berjumlah tujuh orang dan memang, Cap-sha-kui (Tiga Belas Setan) kini tinggal tujuh orang lagi, karena yang enam orang telah tewas.

Tiga orang tamu itu terdiri dari seorang kakek yang sudah amat tua, usianya tentu sudah delapan puluh tahun lebih, akan tetapi dia masih nampak segar dan penuh semangat. Tubuhnya pendek tegap dan kepalanya botak hampir gundul sama sekali, sikapnya dan bicaranya gagah. Sebatang pedang panjang model samurai Jepang tergantung di punggungnya. Kakek ini bukan orang sembarangan. Pernah namanya terkenal di dunia persilatan karena dia pernah menjadi seorang datuk sesat yang amat ditakuti di bagian timur dan berjuluk Tung-hai-sian (Dewa Laut Timur). Dia seorang berbangsa Jepang yang sejak muda sudah tinggal di pantai timur. Nama aselinya Minamoto telah berubah menjadi Bin Mo To. Orang kedua adalah Cia Kong Liang, ketua Cin-ling-pai yang menjadi mantu Bin Mo To. Ketua Cin-ling-pai ini sudah berusia lima puluh empat tahun, namun masih nampak tampan dan gagah. Sebagai seorang ketua perkumpulan Cin-ling-pai yang terkenal, dia nampak berwibawa dan angkuh, seperti tidak memandang mata kepada orang-orang aneh di depannya walaupun dia tahu bahwa Raja Iblis dan teman-temannya itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Isterinya, yang bernama Bin Biauw, peranakan Jepang Korea itu, duduk di sebelahnya. Wanita yang berusia hampir lima puluh tahun ini berpakaian sederhana, namun nampak gagah dengan pedang yang tergantung di punggungnya.

Seperti telah kita ketahui, atas bujukan ayah mertuanya dan isterinya, akhirnya ketua Cin-ling-pai ini menyetujui untuk membantu para pemberontak yang hendak menggulingkan Kaisar Ceng Tek yang dianggapnya tidak cakap itu. Sebagai seorang pendekar, Cia Kong Liang membenci pemerintahan yang penuh dengan koruptor, penuh dengan pembesar-pembesar penindas rakyat dan semua ini adalah kesalahan kaisarnya, oleh karena itu, dia mau membantu mereka yang berusaha menggulingkan kaisar, agar kerajaan dipimpin oleh kaisar lain yang lebih baik. Tentu saja tidak demikian pendapat ayah mertuanya. Ketua Cin-ling-pai ini keras hati dan tindakannya hanya didasari pendapatnya sendiri yang memang tidak menyeleweng daripada jalan benar. Cia Kong Liang tidak mempunyai pamrih pribadi ketika dia mengunjungi San-hai-koan. Satu-satunya tujuan yang ada dalam batinnya hanyalah menggulingkan kaisar yang dianggapnya tidak becus agar diganti oleh kaisar lain sehingga kehidupan rakyat akan menjadi lebih baik. Sebaliknya, Bin Mo To dan anak perempuannya mempunyai ambisi besar, yaitu agar ketua Cin-ling-pai itu memperoleh kedudukan tinggi apabila gerakan itu berhasil!

Kedatangan tiga orang tamu ini tentu saja menggirangkan hati Panglima Ji dan juga Raja Iblis. Bantuan tiga orang ini amat penting, karena di belakang ketua Cin-ling-pai ini terdapat para anggota Cin-ling-pai dan sekali Cin-ling-pai bergerak besar harapannya akan diikuti pula oleh perkumpulan pendekar yang lain. Dan yang hadir dalam ruangan itu, selain tujuh orang Cap-sha-kui sebagai pembantu-pembantu Raja Iblis masih terdapat beberapa orang pula tokoh-tokoh sesat dan di deretan belakang, sebagai kaum muda, nampak Sim Thian Bu dan Gui Siang Hwa!

Setelah berkenalan secara singkat, Cia Kong Liang menyatakan maksud kedatangannya, yaitu hendak membantu gerakan para pemberontak untuk menentang dan menggulingkan kekuasaan kaisar yang dianggap tidak mampu menjadi pemimpin rakyat itu. Ji Sun Ki mendengarkan dengan wajah berseri gembira dan setelah tamunya selesai bicara, dia mengangguk-angguk.

"Alangkah bahagianya hati kami menerima kunjungan Cia Pangcu (Ketua Cia), apalagi mendengar pernyataan pangcu. Memang sesungguhnyalah, kaisar yang sekarang berkuasa adalah kaisar lalim yang dikelilingi oleh menteri-menteri korup dan jahat. Kalau kekuasaan mereka yang duduk di tampuk pemerintahan yang sekarang tidak digulingkan, maka kehidupan rakyat akan menjadi semakin sengsara. Sebaiknya kini kami mohon pendapat Toan Ong-ya untuk menyambut uluran bantuan Cia Pangcu itu," kata panglima itu sambil menoleh dengan sikap hormat kepada Raja Iblis yang duduk di sebelah kanannya. Pangeran Toan Jit Ong itu mengangguk, kemudian menoleh ke sebelah kanannya memberi isyarat kepada isterinya. Seperti biasa, Raja Iblis ini tidak pernah atau jarang sekali bicara sendiri dan isterinya menjadi wakil pembicara. Ratu Iblis mengangguk dan memandang kepada semua yang hadir dan menghentikan pandang matanya kepada tiga orang tamu itu.

"Perlu cu-wi ketahui bahwa selama puluhan tahun Toan Ong-ya bertapa dan tidak pernah mencampuri urusan duniawi. Akan tetapi setelah beliau mendengar akan kelaliman kaisar yang masih terhitung cucu beliau sendiri, beliau merasa penasaran dan bertanggung jawab untuk turun tangan. Sungguh kebetulan sekali bahwa beliau dapat bekerja sama dengan Ji-ciangkun sehingga bantuan orang-orang gagah, dapat diharapkan kita bersama akan dapat menyerbu ke selatan dan menggulingkan pemerintahan yang lalim dan lemah itu. Bantuan Cia Pangcu untuk bekerja sama dengan kami sungguh merupakan hal yang amat baik dan mudah-mudahan akan ditiru oleh semua orang gagah di dunia. Dengan persatuan antara kita sambil melupakan urusan pribadi, maka perjuangan ini akan dapat berhasil lebih cepat lagi. Kemudian, mengenai rencana siasat pergerakan kita, harap Ji-ciangkun yang menjelaskan sesuai dengan rencana kita bersama yang telah diambil." Ratu Iblis lalu mengangguk dengan anggun dan berwibawa.

Cia Kong Liang yang semula merasa ragu-ragu melihat keadaan dan sikap pangeran itu dan anak buahnya yang kelihatan kasar-kasar, jelas menunjukkan bahwa mereka adalah golongan hitam, setelah mendengar ucapan Ratu Iblis merasa tertarik. Dari kata-katanya jelas dapat diketahui bahwa nenek itu adalah seorang terpelajar dan berpengetahuan luas dan sikap Toan Jit Ong juga begitu penuh wibawa, seperti seorang raja besar layaknya.

Panglima Ji segera menjelaskan. "Kita sudah beruntung dapat menduduki San-hai-koan ini yang dapat kita pergunakan sebagai benteng pusat, juga kita sudah berhasil menduduki dusun-dusun di sekitar daerah San-hai-koan. Kedudukan kita sudah cukup kuat untuk melanjutkan penyerbuan ke selatan. Akan tetapi sungguh menggemaskan, di utara terdapat pergerakan para suku bangsa Nomad yang agaknya hendak menegakkan kembali kekuasaan bangsa Mongol yang sudah hancur. Oleh karena itu, kita diancam bahaya dari utara. Dan untuk memperkokoh kedudukan, kita harus cepat merampas kota benteng Ceng-tek. Dengan demikian kita mempunyai dua benteng, San-hai-koan dapat kita pergunakan untuk menahan serbuan para suku bangsa dari utara, sedangkan benteng Ceng-tek dapat kita pergunakan sebagai benteng pertahanan untuk bergerak ke selatan."

Mereka lalu mengadakan perundingan, mencari siasat bagaimana akan dapat merampas benteng Ceng-tek yang dijaga ketat oleh pasukan pemerintah itu. Dalam perundingan itu, ketua Cin-ling-pai bersama isteri dan ayah mertuanya juga diikutsertakan, yang menjadi tanda bukti bahwa mereka bertiga itu telah diterima sebagai sekutu!

"Untuk gerakan ini, Toan Ong-ya telah lama membuat gambaran rencana penyerbuan dan siasat memancing mereka keluar dari sarang," kata Ratu Iblis yang menyampaikan segulung kertas. Ji-ciangkun menerima gulungan kertas itu lalu membukanya dan menggantung kertas yang sudah dibuka itu agar semua yang hadir dapat melihat dengan jelas.

Melihat gambar siasat penyerbuan itu, Cia Kong Liang merasa kagum. Di situ digambarkan siasat yang diatur oleh Pangeran Toan Jit Ong. Dengan gambar dan tulisan dijelaskan siasat itu. Pertama-tama pasukan yang tidak besar jumlahnya harus dapat diselundupkan ke kota Ceng-tek untuk mengatur siasat dan bergerilya membantu pasukan mereka kalau saatnya penyerbuan tiba. Kemudian, pasukan besar dari San-hai-koan akan meninggalkan benteng San-hai-koan dengan berpencar-pencar dan membuat gerakan seolah-olah hendak meluaskan wilayah dan menyerangi dusun-dusun di empat penjuru. Yang ditinggalkan di benteng hanya seperempat saja dari jumlah pasukan mereka, karena benteng San-hai-koan sudah dibuat sedemikian kokohnya sehingga musuh yang jumlahnya jauh lebih besar sekalipun tidak akan mudah menjatuhkan benteng itu. Sementara itu, tiga perempat dari pasukan itu yang tadinya meninggalkan benteng dan dipencar, diam-diam bersatu kembali dan menanti kesempatan baik. Kalau diketahui oleh para pemimpin pasukan pemerintah di Ceng-tek bahwa benteng San-hai-koan ditinggalkan oleh sebagian besar pasukan pemberontak, tentu Ceng-tek akan mengirim pasukan untuk menggempur dan merampas kembali benteng itu. Nah, dalam kesempatan inllah pasukan yang tiga perempat jumlahnya dan sudah bersatu itu lalu mengadakan penyerbuan kilat ke Ceng-tek, dibantu oleh mata-mata yang sudah menyelundup ke dalam kota Ceng-tek.

"Rencana siasat yang bagus sekali!" Ji-ciangkun berkata gembira, "Dan untuk tugas penyelundupan ke Ceng-tek, kami mohon bantuan Cia-pangcu dan para pendekar Cin-ling-pai. Dapatkah pangcu membantu?"

"Tentu saja Cia-pangcu dapat membantu!" Bin Mo To yang mendahului mantunya. "Memang para anggota Cin-ling-pai sudah siap di luar."

Memang, ketua Cin-ling-pai itu sudah mempersiapkan lima puluh orang anggota Cin-ling-pai untuk membantu gerakan pemberontakan itu dan mereka telah siap menanti di luar kota benteng San-hai-koan. Segera mereka dihubungi dan malam hari itu juga pasukan istimewa Cin-ling-pai ini dijamu dengan penuh penghormatan.

Dan beberapa hari kemudian, siasat itu dijalankan dengan baiknya. Pasukan di Ceng-tek yang dipimpin oleh Bhe-ciangkun terpancing, ketika para penyelidik melaporkan adanya gerakan besar-besaran dari pasukan pemberontak yang meninggalkan benteng sehingga benteng di San-hai-koan hampir kosong. Panglima Bhe yang masih menanti keputusan dari kota raja atas laporannya bahwa Ji-ciangkun dari San-hai-koan memberontak dan menguasai San-hai-koan, melihat kesempatan baik untuk merebut kembali kota benteng itu. Maka diapun mengerahkan pasukannya untuk menyerang San-hai-koan. Akan tetapi benteng ini ternyata amat kuat walaupun hanya dijaga oleh pasukan pemberontak yang tidak begitu banyak jumlahnya. Dan selagi pasukan pemerintah sibuk berusaha merampas kembali San-hai-koan, diterima berita bahwa benteng Ceng-tek diserbu oleh pasukan pemberontak yang kuat sekali! Dan dalam waktu semalam saja benteng itu jebol dan diduduki oleh pasukan pemberontak! Tentu saja pasukan pemerintah menjadi kacau, apalagi ketika sebagian dari pasukan yang merampas Ceng-tek itu lalu dipergunakan oleh Ji-ciangkun untuk menyerang pasukan pemerintah dari belakang. Terpaksa Bhe-ciangkun menarik mundur pasukannya dan melarikan diri ke selatan sampai di Tembok Besar dan cepat mengirim berita ke kota raja untuk minta bantuan.

***
Cin-ling-pai mempunyai jasa besar dalam penyerbuan kota Ceng-tek karena perkumpulan orang gagah inilah yang dipimpin sendiri oleh Cia Kong Liang, isteri dan mertuanya, yang menyelundup ke dalam kota Ceng-tek. Ketika terjadi penyerbuan, mereka telah membantu dari dalam, membakari tempat-tempat penting, menyerang pembesar-pembesar sehingga kekacauan ini menyebabkan pertahanan kota Ceng-tek menjadi lemah dan mudah ditundukkan dan dirampas.

Untuk menyenangkan hati para pendekar Cin-ling-pai, atas petunjuk Raja Iblis, Ji-ciangkun lalu mengangkat Cia Kong Liang sebagai pimpinan pasukan keamanan di kota itu, sedangkan para anggota Cin-ling-pai diangkat menjadi perwira-perwira pasukan keamanan kota Ceng-tek. Mereka itu, dari para murid sampai kctuanya, bertugas dengan penuh disiplin dan semangat tinggi, merasa bahwa mereka telah menjadi pejuang-pejuang yang menegakkan keadilan dan menentang pemerintah lalim demi kebaikan rakyat dan negara. Hanya Bin Mo To den puterinya yang diam-diam merasa gembira dengan pengangkatan itu. Ini merupakan permulaan yang baik bagi Cia Kong Liang untuk menuju ke tangga kedudukan yang kelak tentu akan jauh lebih tinggi kalau pemberontakan itu berhasil. Bin Mo To yang diam-diam telah mengadakan kontak dengan Raja Iblis dapat menyimpan rahasianya dan ketika berjumpa di San-hai-koan, dia berpura-pura tidak mengenal pangeran itu. Kakek ini memang sejak puterinya menikah dengan Cia Kong Liang, tidak lagi terjun ke dalam dunia kejahatan, akan tetapi bagaimanapun juga dia tidak mampu melawan dorongan ambisinya untuk melihat anak mantunya menjadi seorang yang berkedudukan tinggi sehingga dia sendiri otomatis akan terangkat martabatnya.

Setelah Ceng-tek terjatuh ke tangan para pemberontak, kekuasaan para pemberontak menjadi semakin besar dan mereka semakin rajin menyerbu ke dusun-dusun. Yang paling rajin di antara para pembantu Ji-ciangkun adalah Sim Thian Bu. Orang ini selain menjadi kekasih Siang Hwa, juga menjadi kepercayaan Raja Iblis dan Ji-ciangkun karena memang sudah banyak jasanya. Sim Thian Bu selama ini memperlihatkan kesetiaannya dan kesungguhan hatinya dalam membantu pasukan pemberontak menaklukkan dusun-dusun dan melakukan perampokan-perampokan. Oleh karena itu dia dipercaya memimpin pasukan besar sebanyak seribu orang, bahkan dia boleh menentukan sendiri gerakan-gerakan aksinya ke dusun-dusun. Thian Bu tidak mau sembarangan menyerang dusun-dusun yang miskin. Dia selalu menyelidiki lebih dabulu apakah terdapat hal-hal yang menguntungkan bagi penyerbuan pasukannya. Kalau di dusun itu terdapat harta kekayaan, atau setidaknya ternak atau bahan makanan, terutama sekali kalau terdapat wanita-wanitanya yang muda, tentu dia akan mengerahkan anak buahnya menyerbu.

Pada suatu pagi, Sim Thian Bu menunggang kuda seorang diri. Dia mendengar dari seorang penyelidiknya bahwa ada serombongan orang suku bangsa Mancu memasuki sebuah dusun yang sudah kosong karena semua penghuninya telah pergi, yaitu sisa dari mereka yang terbunuh oleh pasukannya. Yang tinggal hanya sisa-sisa rumah mereka yang sudah rusak dan sebagian terbakar. Mendengar berita bahwa rombongan itu terdiri dari kurang lebih seratus orang dan dalam rombongan terdapat banyak wanita cantik, hati Sim Thian Bu tergerak. Maka, pada pagi hari itu dengan menunggang kuda dia pergi sendiri melakukan penyelidikan.

Dusun itu berada di sebuah lereng bukit, tidak begitu jauh dari Ceng-tek. Sebuah dusun yang keadaannya amat menyedihkhn karena hanya tinggal belasan orang pondok yang masih utuh, selebihnya sudah menjadi puing bekas dibakar. Ketika memasuki dusun itu, Thian Bu memandang dengan senyum bangga karena keadaan dusun itu merupakan hasil atau bekas tangan pasukannya. Lumayan juga hasil yang diperolehnya dari dusun ini ketika dirampoknya dua pekan yang lalu karena di situ terdapat serombongan pengungsi dari utara yang membawa harta benda cukup banyak.

Puluhan ekor kuda yang ditambatkan di lapangan rumput dekat dusun membuat Thian Bu memandang dengan gembira. Baru puluhan ekor kuda itu saja sudah akan menjadi hasil serbuan yang lumayan. Kemudian ada pemandangan lain yang menggirangkan hatinya, yaitu jemuran pakaian-pakaian wanita yang indah-indah! Dia meloncat turun, menambatkan kudanya pada sebatang pohon dan memasuki dusun itu sambil berindap dan menyelinap di antara pohon-pohon. Kemudian dia mulai melihat beberapa orang laki-laki berjalan keluar dari dalam pondok. Mereka adalah orang-orang Mancu dan melihat pakaian mereka yang serba bagus, dia dapat menduga bahwa rombongan itu merupakan makanan yang berdaging.

Tiba-tiba perhatian Thian Bu tertarik kepada lima orang wanita yang baru muncul dari dalam pondok sambil tertawa-tawa dan bersendau-gurau. Sepasang mata Thian Bu terbelalak. Wanita-wanita itu muda-muda, antara dua puluh sampai tiga puluh tahun, dan semua cantik-cantik. Sungguh tidak pernah disangkanya bahwa di tempat seperti itu dia akan dapat melihat demikian banyaknya wanita muda cantik. Wanita-wanita muda bangsa Mancu yang cantik dan berpakaian indah-indah, memakai perhiasan badan dari emas permata! Agaknya rombongan orang kaya raya yang kini berada di dusun ini, pikirnya dengan mulut berliur. Karena lima orang wanita itu membawa keranjang berisi pakaian dan keluar dari pondok menuju ke sebuah sungai kecil yang mengalir tidak jauh dari tempat itu. Thian Bu tidak dapat menahan diri lagi dan diam-diam dia membayangi mereka. Soal menyerbu rombongan orang Mancu dalam dusun itu adalah soal nanti, yang terpenting baginya sekarang juga dia harus dapat melarikan seorang di antara lima gadis cantik itu. Selama menjadi pembantu Raja Iblis, dia kekurangan hiburan karena waktu luangnya habis oleh Siang Hwa yang tidak pernah mau melepaskannya. Dan wataknya sebagai seorang penjahat cabul, membuat dia tidak puas kalau hanya berdekatan dengan satu orang wanita yang itu-itu juga.

Dapat dibayangkan betapa girang rasa hati laki-laki cabul ini ketika dia melihat lima orang wanita itu menuruni lorong kecil menuju ke anak sungal itu dan mereka berlima lalu melepas jubah luar dan mandi-mandi sambil mencuci pakaian! Dia dapat melihat dengan jelas sekali bentuk tubuh mereka dan kecantikan mereka sehingga sukarlah dia memilih yang mana yang akan dilarikannya. Kesemuanya cantik manis dan memiliki daya tarik khas sendiri-sendiri. Bagaikan seorang anak nakal Thian Bu bersembunyi, mendekam di balik semak-semak tak jauh dari tempat mereka mencuci pakaian dan berendam di air atau duduk di batu-batu besar itu. Matanya tak pernah berkedip, mukanya menjadi kemerahan dan buah lehernya turun naik.

"Laki-laki tidak sopan, tidak malu kau mengintai wanita-wanita mandi?" tiba-tiba terdengar bentakan yang mengejutkan hati Thian Bu. Dia terkejut bukan karena perbuatannya diketahui orang, melainkan karena ada orang yang muncul di situ dan berada di belakangnya tanpa dia ketahui kedatangannya.

Thian Bu menoleh dan melihat bahwa yang menegurnya adalah seorang pemuda yang berwajah tampan dan periang. Karena hatinya sedang gembira, diapun menaruh telunjuk ke depan mulut dan berbisik, "Sobat, kalau engkau ingin menikmati pemandangan indah bersamaku, ke sinilah dan jangan ribut-ribut!"

Pemuda itu mengerutkan alisnya dan mukanya berobah merah, pandang matanya mengandung kemarahan. "Aku bukan laki-laki cabul macam engkau! Sobat, pergilah dan jangan kurang ajar, kalau tidak..."

"Kalau tidak, bagaimana?" Thian Bu menjadi marah pula dan meloncat dari balik semak-semak, berdiri menghadapi pemuda itu sambil bertolak pinggang. Orang ini mengganggu kesenangannya, dan karena menganggap pemuda ini seorang pemuda biasa saja, maka diapun bersikap sabar.

"Kalau tidak, terpaksa aku menyeretmu dan melemparmu pergi dari tempat ini!" kata pemuda itu dengan suara tegas. Tentu saja Sim Thian Bu menjadi marah bukan main. Dia, yang jarang menemui tandingan, bahkan kini menjadi seorang penting dari pasukan pemberontak, pembantu Raja Iblis dan Panglima Ji yang dipercaya, juga kekasih murid Raja Iblis, mau diseret dan dilempar begitu saja oleh seorang pemuda dusun!

"Jahanam lancang mulut! Engkau tidak tahu dengan siapa engkau berhadapan maka berani membuka mulut sembarangan. Untuk itu engkau pengganggu kesenanganku. harus mampus!" Berkata demikian, Sim Thian Bu lalu menyerang dengan pukulan tangannya yang ampuh, mengerahkan tenaga sin-kang karena dia ingin sekali pukul membuat kepala pemuda dusun ini pecah untuk melampiaskan kemengkalan hatinya. Apalagi lima orang wanita cantik itu mendengar suara ribut-ribut lalu berkemas dan meninggalkan tempat itu, membawa cucian mereka sambil berlari-lari kecil!

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Thian Bu melihat pemuda dusun yang pakaiannya aneh-aneh itu berani menangkis pukulannya yang mengandung sin-kang kuat itu. Dia tersenyum mengejek dan melanjutkan pukulannya dengan keyakinan hati bahwa tulang lengan lawan itu akan patah-patah dan tangannya tentu akan tetap dapat mengenai kepalanya.

"Dukkk...!"

Untuk kedua kalinya Thian Bu terkejut, akan tetapi sekali ini dia terkejut dan heran, juga kesakitan karena tubuhnya terdorong ke belakang dan lengannya yang kena tangkis tadi tergetar hebat dan terasa nyeri seolah-olah tulang lengannya akan patah rasanya! Barulah dia tahu bahwa pemuda dusun ini ternyata seorang yang memiliki kepandaian silat yang tinggi!

"Siapa... siapakah engkau?" tanyanya terdorong oleh rasa kaget dan heran yang besar.

Pemuda itu tersenyum dan sepasang matanya yang tajam itu ikut tersenyum, dan kelihatan jenaka dan nakal. "Manusia cabul, kiranya engkau memiliki pula kepandaian yang tidak rendah. Aku tidak tahu orang macam apa adanya engkau dan apa keinginanmu maka mengintai para wanita yang sedang mandi, akan tetapi kalau kau ingin tahu namaku adalah Cia Hui Song."

Thian Bu terkejut. Dia sudah mendengar nama ini walaupun belum mengenal orangnya. Dengan hati-hati dia bertanya, "Apa bubunganmu dengan ketua Cin-ling-pai yang bernama Cia Kong Liang?"

Kini Hui Song terkejut. Kiranya orang ini sudah mengenal nama dan kedudukan ayahnya. Tentu bukan orang sembarangan. Tadipun dia sudah merasakan betapa orang itu memiliki tenaga sin-kang yang kuat sekali.

"Dia adalah ayahku. Sobat, siapakah engkau yang mengenal nama ayahku?"

"Pendekar manakah yang tidak mengenal nama besar Cin-ling-pai dan ketuanya? Maafkan tadi aku tidak mengenalmu, Cia-taihiap. Aku bernama Sim Thian Bu. Maafkan, ketika aku melakukan perjalanan lewat di sini, melihat wanita-wanita itu mandi... mereka begitu gembira, aku tertarik dan mengintai..."

Kalau saja ketika terjadi penyergapan oleh pasukan gerombolan terhadap para pendekar di bekas benteng Jeng-hwa-pang terjadi pada siang hari, tentu Hui Song akan mengenal orang ini sebagai pembantu Gui Siang Hwa yang memimpin penyergapan itu. Akan tetapi malam itu gelap sehingga dia tidak mengenal Thian Bu dan dia percaya akan keterangannya. Bagaimanapun juga, dia maklum kalau seorang laki-laki mengintai wanita-wanita yang sedang mandi, apalagi kalau yang mandi itu adalah selir-selir Lam-nong yang demikian cantik manis dan periang.

"Sudahlah, harap engkau tinggalkan tempat ini. Wanita-wanita itu adalah isteri dari Lam-nong, harap jangan diganggu karena Lam-nong adalah sahabatku."

"Lam-nong...? Siapa dia?" Thian Bu bertanya, tidak mau sembrono menentang pemuda putera ketua Cin-ling-pai ini yang sekarang telah menjadi sekutu Raja Iblis, apalagi karena amat berbahaya melawan pemuda yang tadi sudah dia rasakan kekuatannya ketika menangkis pukulannya.

"Lam-nong adalah kepala suku Mancu Timur. Eh, saudara Sim, apakah engkau juga hadir ketika terjadi penyergapan terhadap para pendekar oleh pasukan pemberontak?"

Dengan cerdik dan hati-hati Thian Bu menggeleng kepala dan menark napas panjang. "Sayang sekali aku datang terlambat, taihiap. Ketika aku datang ke benteng Jeng-hwa-pang, tidak ada seorangpun di sana kecuali bekas-bekas pertempuran hebat. Lalu apakah yang menjadi keputusan para pendekar yang mengadakan pertemuan di tempat itu?"

Akan tetapi Hui Song juga bukan seorang yang bodoh dan ceroboh. Dia belum mengenal betul laki-laki ini, tidak tahu siapa dia sebenarnya, oleh karena itu tentu saja dia tidak mau sembarangan saja menceritakan tentang hasil pertemuan para pendekar yang diserbu oleh pasukan pemberontak itu.

"Keputusan-keputusan itu hanya boleh diketahui oleh mereka yang hadir. Maaf, aku tidak dapat memberi tahu padamu."

Diam-diam Thian Bu merasa penasaran. Dia tahu bahwa putera ketua Cin-ling-pai tidak percaya kepadanya dan dia dapat menduga pula bahwa Hui Song ini tentu belum tahu bahwa ayahnya kini berada di Ceng-tek membantu Raja Iblis, membantu para pemberontak! Bagaimanapun juga, dia gembira sekali mendengar keterangan tentang Lam-nong, kepala suku Mancu Timur yang kini bersama rombongannya berada di dusun itu.

"Sekali lagi maafkan kelancanganku, taihiap, dan perkenankan aku pergi," akhirnya dia berkata karena dia melihat datangnya beberapa orang Mancu menuju ke tempat itu. Hui Song mengangguk dan Sim Thian Bu lalu pergi dengan cepat, diikuti pandang mata Hui Song yang masih menduga-duga orang macam apa adanya laki-laki yang berpakaian mewah dan berkepandaian tinggi itu.

Enam orang Mancu yang datang itu adalah Lam-nong dan para pengawalnya. Melihat Hui Song, Lam-nong segera mengulur tangan dan memegang tangan sahabatnya itu. "Isteri-isteriku telah bercerita bahwa engkau datang dan bertengkar dengan seorang laki-laki. Apakah yang telah terjadi dan siapakah dia?"

Hui Song tidak mau menyembunyikan urusan itu kepada sababatnya. "Dia kulihat mengintai isteri-isterimu yang sedang mandi, maka kutegur dia dan kusuruh dia pergi. Saudara Lam-nong, engkau dan rombonganmu hendak pergi ke manakah?"

"Ke mana lagi kalau tidak pulang? Daerah ini berbahaya. Pasukan pemberontak membuat pembersihan di mana-mana. Mereka menyerbu dusun-dusun, membunuhi orang-orang dan merampok. Lihat, dusun inipun habis dirampok dan dibakar. Kami hanya beristirahat dan bermalam di sini, besok pagi kami melanjutkan perjalanan ke timur, pulang ke kampung halaman kami sendiri."

"Engkau tidak membantu nenek Yelu Kim?"

Lam-nong menggeleng kepala dan menggandeng tangan sahabatnya diajak kembali ke dalam dusun. Mereka memasuki sebuah pondok yang telah dibersihkan dan dijadikan tempat bermalam Lam-nong dan para selirnya. Kedatangan Hui Song disambut dengan gembira oleh para selir yang sudah mengenalnya dan mereka semua lalu duduk di atas lantai yang ditilami tikar. Sambil menjamu sahabatnya, Lam-nong mengajak Hui Song bercakap-cakap, sedangkan para selir hanya duduk mendengarkan. Mereka semua suka kepada Hui Song yang gagah, tampan dan sopan itu. Menghadapi pemuda ini dan bicara dengannya, para selir ini tidak merasa canggung atau malu-malu lagi, apalagi karena suami mereka juga amat suka dan percaye kepada pendekar itu.

"Bagaimana mungkin aku merendahkan diri mentaati perintah-perintah seorang wanita, sudah nenek-nenek pula? Tidak, aku tidak akan begitu merendahkan diri, lebih baik aku kembali ke timur dan lebih baik aku membantu seorang pemimpin bangsa Mancu yang kupercaya sekali waktu akan bangkit dan menjadi lebih besar daripada suku-suku lain di utara," Lam-nong berhenti sebentar, lalu memandang kepada pendekar itu. "Dan engkau sendiri, dari mana dan hendak ke mana, Cia-taihiap? Bagaimana kabarnya dengan kepergianmu yang katanya hendak mengunjungi kawan-kawanmu itu?"

"Tidak baik sekali, kami yang sedang mengadakan pertemuan telah diserbu oleh pasukan pemberontak. Banyak di antara teman-teman kami tewas."

"Ah, kalau begitu mari engkau ikut bersama kami saja ke timur, Cia-taihiap. Aku akan merasa beruntung sekali kalau kelak engkau dapat membantu pergerakan kami orang-orang Mancu, kalau waktunya sudah tiba untuk itu," kata Lam-nong yang merasa amat suka kepada sahabat barunya ini.

Hui Song menarik napas panjang, memandang kepada Lam-nong dan isteri-isterinya. Mereka semua menatap wajahnya dengan sinar mata penuh harapan agar dia mau menemani mereka. Betapa baiknya orang-orang ini, pikirnya. "Sayang sekali, saudara Lam-nong. Sebetulnya aku sendiripun merasa amat suka bersama dengan kalian, akan tetapi kiranya tidak mungkin. Aku harus menentang para pemberontak, karena mereka dipimpin oleh orang-orang jahat. Andaikata suku bangsamu mengangkat senjata menentang mereka, sudah pasti aku akan membantumu sekuat tenaga."

Lam-nong juga menarik napas panjang. "Sayang sekali. Akan tetapi aku tidak akan melakukan gerakan sekarang. Untuk itu bangsaku belum siap dan untuk bekerja di bawah perintah seorang nenek-nenek akupun tidak sudi. Marilah kita bersenang-senang malam ini sebagai melam perpisahan, Cia-taihiap. Siapa tahu kita tidak akan saling bertemu kembali walaupun aku sungguh mengharapkan itu."

Hui Song dijamu dan mereka makan minum dengan gembira pada malam harinya. Hui Song ditahan untuk bermalam di situ bukan bermalam untuk tidur melainkan melewatkan malam bercakap-cakap dan makan minum dengan gembira bersama Lam-nong dan isteri-isterinya.

Mereka yang sedang bergembira dalam malam perpisahan ini sama sekali tidak pernah menyangka bahwa malam perpisahan itu merupakan malam perpisahan yang sungguh-sungguh dan amat menyedihkan, menjadi malam malapetaka besar bagi keluarga Lam-nong dan rombongannya yang tidak besar jumlahnya itu.

NEXT TO --Jilid 059--
BACK

Tidak ada komentar: