***

***

Ads

Senin, 27 Februari 2017

Pendekar Lembah Naga Jilid 070

“Kakek iblis, kalau begitu biar aku mengadu nyawa denganmu!”

Kwi Eng berseru dengan putus asa dan dia lalu menyerang dengan kedua tangan kosong! Sebetulnya, kakak beradik ini telah mewarisi ilmu-ilmu yang amat tinggi, warisan dari Panglima The Hoo melalui ibu mereka, yaitu ilmu It-ci-san, semacam ilmu totok menggunakan sebuah jari tangan yang amat lihai, dan selain itu, juga mereka telah mewarisi ilmu silat tangan kosong Jit-goat Sin-ciang dan telah mengusai penggabungan tenaga Im dan Yang.

Akan tetapi, karena bakat mereka tidak terlalu besar, maka mereka hanya mampu menguasai sebagian saja dari ilmu-ilmu ini, maka biarpun kini keduanya menggunakan ilmu-ilmu itu untuk mengeroyok Hwa-i Sin-kai, mereka ini tidak dapat banyak berdaya. Bahkan dalam waktu belasan jurus saja ujung tongkat di tangan kakek itu telah menghajar pinggul Kwi Beng sehingga pemuda ini bergulingan dan menotok pundak kiri Kwi Eng sehingga nyonya muda itupun terguling roboh.

“Iblis tua kejam, kau mampuslah!”

Kwi Beng membentak dan tiba-tiba tangan kanannya telah mencabut sebuah pistol peninggalan ayahnya. Memang dia sudah mempersiapkan senjata api ini karena Kwi Beng bukanlah seorang yang bodoh, dan dia sudah menduga bahwa ketua Hwa-i Kai-pang itu tentu seorang yang berilmu tinggi sekali sehingga seorang pendekar seperti kakak iparnya itupun sampai tewas bertanding melawan kakek itu.

Maka ketika berangkat, dia sudah mempersiapkan senjata api ini, biarpun ayahnya meninggalkan pesan agar dia jangan sembarangan mempergunakan senjata maut itu kalau tidak terpaksa dan terancam keselamatannya. Sekarang, dia memang agaknya tidak terancam keselamatannya, karena kakek itu agaknya tidak hendak membunuh dia dan adiknya, akan tetapi dia maklum bahwa adiknya tentu akan melawan terus sampai mati. Daripada adiknya yang mati, lebih baik kakek itu!

“Dar-darrr...!”

Pistol itu meledak dua kali dan robohlah seorang kakek pengemis tingkat tiga dengan pundak dan lengan terluka. Ternyata ketika tadi pemuda itu mencabut pistol, seorang kakek tingkat tiga segera menubruk ke depan pemuda itu sehingga pada saat pistol meledak, yang roboh adalah kakek ini dan bukan Hwa-i Sin-kai.

Kakek itu terkejut dan marah, tubuhnya menyambar ke depan dan begitu tongkatnya bergerak pistol di tangan Kwi Beng sudah terlempar jauh dan tangan pemuda itu berdarah! Akan tetapi, Kwi Eng sudah datang menerjang dan Kwi Beng juga bangkit dan terus menerjang lagi dengan nekat. Kakek itu mendengus dan kembali tongkatnya membuat keduanya roboh terguling.

“Orang-orang muda yang tak tahu diri! Kepandaian kalian terlalu rendah untuk berani kurang ajar terhadap kami!” kata Lo-thian Sin-kai. “Lebih baik kalian pergi dan jangan membikin marah pangcu kami!”

Para pengemis kelihatan marah melihat betapa kakek pengemis yang kena tembakan tadi terluka parah, namun tidak membahayakan nyawanya.

“Biarlah, mereka ini perlu dihajar sampai tobat!” bentak Hwa-i Sin-kai sambil berdiri menanti dengan muka marah.






Dua orang muda itu bangkit lagi, menerjang lagi dan roboh lagi! Sampai tiga empat kali mereka roboh dan kini para tokoh Hwa-i Kai-pang menertawakan mereka. Mereka itu hanya seperti anak kecil yang nakal melawan ketua Hwa-i Kai-pang yang sakti. Kalau ketua itu mau, tentu saja dengan amat mudahnya dia dapat membunuh kedua orang muda itu.

Muka Kwi Eng sudah bengkak terkena tamparan dan mulut Kwi Beng bahkan mengeluarkan darah karena bibirnya pecah, akan tetapi untuk ke sekian kalinya, kedua orang muda yang sudah nekat dan mata gelap itu menyerang lagi.

“Plakk! Dukk!”

Kini dua orang kakak beradik itu terjungkal karena tamparan dan hantaman tongkat dari kakek itu ditambah tenaga. Kwi Eng terbanting keras dan kepalanya pening, sedangkan Kwi Beng terpukul tongkat kakinya sehingga ketika dia hangkit berdiri, dia terpincang. Namun mereka berdua masih belum mau sudah. Tekat mereka adalah untuk melawan sampai mati!

Pada saat itu, terdengar suara merdu dan nyaring, suara seorang wanita muda,
“Sungguh tidak tahu malu, kakek-kakek tua bangka menghina orang-orang muda mengandalkan kepandaian yang tidak seberapa!”

Semua orang terkejut dan menengok. Yang bicara itu adalah seorang gadis yang berwajah cantik manis, berpakaian ringkas sederhana, namun wajahnya cerah dan sinar matanya lincah, mulutnya yang manis tersenyum mengejek ketika dia memandang kepada para kakek pengemis tokoh-tokoh Hwa-i Kai-pang itu.

Di sebelahnya berdiri seorang pemuda yang tubuhnya tinggi tegap, wajahnya serius dan agaknya pemuda ini adalah adik dari dara itu. Dara itu tidak remaja lagi, tentu usianya sudah kurang lebih dua puluh lima tahun, sedangkan pemuda itu berusia antara dua puluh tiga tahun. Seperti juga si gadis, pemuda ini berpakaian ringkas sederhana tidak membawa senjata, dan kelihatannya seperti seorang pemuda petani biasa saja, hanya sepasang matanya yang tenang itu mengeluarkan sinar tajam mengejutkan.

Mendengar ucapan gadis itu, seorang tokoh pengemis tingkat tiga menjadi marah. Kakek pengemis tingkat tiga ini tadi secara diam-diam sudah memperhatikan gerakan dua orang yang bertempur melawan ketuanya itu dan dia tahu bahwa tingkat kepandaian kedua orang itu belum begitu tinggi, bahkan dia sendiripun berani menghadapi seorang diantara mereka.

Dia merasa penasaran mengapa ketuanya maju sendiri melayani segala macam lawan selemah itu, tidak mewakilkan kepada para tokoh yang lebih rendah tingkatnya. Kini, melihat gadis yang berani mengatakan bahwa mereka mengandalkan kepandaian yang tidak seberapa, dia menjadi marah sekali, menganggap kata-kata itu menghina. Kini dia memperoleh kesempatan untuk mewakili ketuanyan, mendahului ketuanya itu dia menegur,

“Bocah bermulut lancang, mau apa kau buka mulut mencampuri urusan kami?”

Gadis itu tersenyum dan melirik kepada pengemis tingkat tiga ini.
“Aku telah mendengar dalam perjalanan bahwa kakek jembel dari Hwa-i Kai-pang ditandai tingkatnya dengan tumpukan buntalan di punggungnya. Agaknya yang lebih banyak tumpukan buntalannya berarti lebih pandai mengemis, dan kau ini mempunyai buntalan tiga. Lumayan juga kepandaianmu mengemis, akan tetapi kalau engkau mengemis kepadaku, aku tidak akan sudi memberi apa-apa karena wajahmu tidak menimbulkan iba seperti pengemis tulen!”

Pengemis tingkat tiga itu marah bukan main. Dia adalah seorang kakek yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam, yaitu bukan lain adalah Hek-bin Mo-kai, tokoh tingkat tiga dari Hwa-i Kai-pang yang berangasan itu. Dia dihina terang-terangan oleh gadis ini, maka dia menjadi marah sekali. Kulit tubuhnya yang lain, yang biasanya berwarna putih itu menjadi merah, sedangkan mukanya yang hitam menjadi makin hitam ketika dia mengetukkan tongkatnya ke atas tanah.

Semua orang memandang tegang, bahkan Kwi Eng dan Kwi Beng yang masih nanar itu juga memandang, tidak tahu siapa adanya wanita dan pria yang datang ini.

“Bocah lancang mulut! Kalau tidak ingat bahwa engkau seorang wanita muda yang lemah tentu kelancangan mulutmu itu akan kau tebus mahal sekali!”

Gadis itu ternyata lincah dan jenaka sekali. Dia tersenyum manis dan memandang kepada si muka hitam dengan sinar mata berseri-seri.

“Ah, kaum pengemis agaknya mengenal harga juga, ya? Berapa mahalkah tebusan kelancanganku? Sebungkus sayuran sisa? Ataukah beberapa keping uang tembaga?”

Bukan hanya Hek-bin Mo-kai yang marah, akan tetapi semua tokoh Hwa-i Kai-pang menjadi marah sekali. Mereka telah berkali-kali mengalami penghinaan wanita yang bernama Kim Hong Liu-nio itu, bahkan Hek-bin Mo-kai dan Tiat-ciang Sin-kai, dua orang tokoh Hwa-i Kai-pang tingkat tiga itu, juga Lo-thian Sin-kai tokoh tingkat dua, telah tidak berhasil mengalahkan seorang wanita muda cantik.

Kini muncul seorang wanita muda cantik lain yang datang-datang telah mengejek dan memandang rendah, tentu saja hati mereka menjadi panas sekali. Lebih-lebih Hek-bin Mo-kai yang memang berwatak berangasan. Dia pernah dikalahkan oleh Kim Hong Liu-nio. Kekalahan pahit sekali karena dia sebagai tokoh tingkat tiga dari Hwa-i Kai-pang yang tersohor, sampai kalah oleh seorang wanita muda! Sungguh merupakan suatu hal yang membikin merosot kebesaran namanya, bahkan mencemarkan namanya sebagai seorang tokoh. Maka kini, menghadapi seorang wanita muda lagi yang berani bersikap lancang dan memandang rendah, tentu saja dia menjadi marah bukan main.

“Perempuan kurang ajar dan lancang! Apakah kau bosan hidup? Siapakah engkau?” bentaknya.

Akan tetapi gadis cantik itu tersenyum dan melirik ke arah Hwa-i Sin-kai yang sejak tadi hanya berdiri memandang, lalu dia, berkata,

“Aku tidak ada waktu untuk bicara dengan segala macam jembel rendahan. Eh, engkau kakek pengemis yang tidak menggendong buntalan, agaknya engkau yang menjadi kepala disini. Benarkah?”

Melihat sikap gadis itu bicara seperti itu kepada ketua mereka, semua pengemis menjadi makin marah, akan tetapi Hwa-i Sin-kai mengangkat tangan kirinya ke atas dan semua suara bising dari para pengemispun terhenti sama sekali. Suasana menjadi hening dan menegangkan, sedangkan Souw Kwi Eng dan Souw Kwi Beng hanya memandang dengan heran.

“Nona, benar dugaanmu bahwa aku adalah pangcu dari Hwa-i Kai-pang. Nona siapakah dan...”

“Pangcu, anggap saja aku dan adikku ini adalah orang-orang yang kebetulan lewat disini dan menyaksikan perbuatan yang tidak bagus dari Hwa-i Kai-pang! Engkau adalah ketua kai-pang dari perkumpulan pengemis yang sudah tersohor di daerah ini, yang menurut kabar adalah sebuah perkumpulan pengemis terbesar. Akan tetapi melihat betapa seorang pangcu yang besar menghina dua orang muda yang tidak berdaya, sungguh merupakan kenyataan yang sebaliknya, bahwa Hwa-i Kai-pang hanyalah merupakan sekumpulan jembel yang suka meghina orang di belakang layar, akan tetapi di atas panggung pura-pura mohon belas kasihan orang dengan mengemis!”

Kembali terdengar suara berisik ketika para pengemis itu menjadi marah mendengar ucapan ini, akan tetapi pangcu itu mengangkat tangan dan semua pengemis itu menjadi diam.

Pangcu ini bukan orang sembarangan dan berbeda dengan para pembantu dan anak buahnya, dia yang berpemandangan tajam dapat mengenal bahwa pemuda dan gadis yang datang ini bukan orang-orang muda sembarangan maka berani bersikap seperti itu. Jangan-jangan mereka ini, seperti juga Kim Hong Liu-nio, adalah orang-orang muda sakti yang diutus oleh Kim Hong Liu-nio untuk mengacau, pikirnya.

“Nona muda, mengambil kesimpulan dan mengeluarkan pendapat atas sesuatu hal yang belum diselidiki lebih dulu keadaannya merupakan tindakan yang amat coroboh. Ketahuilah bahwa dua orang muda ini datang sendiri ke sini untuk menantang dan mengacau. Setelah mereka manantang kami dan aku maju memenuhi permintaan mereka sehingga terjadi pertandingan ini, bagaimana kau bisa mengatakan bahwa kami menghina mereka? Kau lihat sendiri tadi, bukankah mereka berdua yang mengeroyok aku seorang tua?”

Gadis itu agaknya tidak dapat membantah hal ini. Memang tadi dia melihat betapa kakek ini dikeroyok dua, hanya saja tingkat kepandaian dua orang muda itu jauh sekali di bawah tingkat kakek ini sehingga jangankan baru dikeroyok oleh mereka berdua, biar ditambah lagi sepuluh orang yang tingkat kepandaiannya seperti kedua orang muda itupun tak mungkin akan dapat menandingi kakek itu. Maka dia lalu menoleh dan memandang kepada Kwi Eng sambil tersenyum.

“Enci yang baik, mengapa kalian berdua yang belum memiliki kepandaian berani menandingi ketua jembel ini dan mencari celaka sendiri?”

Pertanyaan itu lebih menyerupai teguran dan Kwi Beng yang sejak tadi sudah melihat dan mendengarkan dengan hati panas, menjadi makin penasaran. Dalam percakapan itu dia merasa betapa dia dan adiknya amat direndahkan orang, dan diapun memiliki keangkuhan, dia tidak mengharapkan bantuan siapapun juga dalam urusan pribadi ini, apalagi karena dia sama sekali tidak mengenal dara yang cantik dan pemuda yang pendiam itu.

“Kami tidak membutuhkan bantuan siapapun! Hayo, tua bangka kejam, lanjutkan pertempuran kita tadi, kami tidak akan berhenti sebelum nyawa kami putus!”

Dan Kwi Beng sudah menyerang lagi dengan nekat, mengirim pukulan dari jurus It-goat Sin-ciang yang cukup dahsyat.

“Wuuuuuttt... plak!”

Betapapun dahsyatnya pukulan itu, akan tetapi karena tenaga sin-kangnya jauh di bawah tingkat kakek itu, maka sekali tangkis saja, ketua yang lihai itu kembali membuat tubuh Kwi Beng terguling!

Pendekar Lembah Naga