***

***

Ads

Sabtu, 22 April 2017

Pendekar Lembah Naga Jilid 256 (TAMAT)

“Mari... mari kita pergi...” kata Bi Cu sambil menggandeng tangan Sin Liong dan pemuda ini merasa lega bukan main.

Kata-kata itu saja sudah menunjukkan bahwa Bi Cu sama sekali tidak berniat untuk membunuh musuhnya ini. Akan tetapi dia masih belum puas. Dia menarik tangan Bi Cu mendekati Kui Hok Boan dan dia lalu berkata dengan suara halus.

“Paman Kui Hok Boan, lihat baik-baik. Inilah Bhe Bi Cu, puteri mendiang Bhe Coan yang telah kau bunuh itu!”

Bibir Kui Hok Boan bergerak-gerak dan berbisik-bisik,
“Bhe Coan... Bhe Coan...” Lalu kembali dia menjatuhkan diri dan berlutut. “Ampunkan aku... ampunkan aku...!” Sejenak kemudian dia sudah meloncat bangun dan seperti tadi dia memasang kuda-kuda dan berkata, “Atau, kalau tidak mau mengampuniku, mari kita bertanding sampai aku menggeletak mati!”

“Mari kita pergi!”

Bi Cu berkata lagi dan kini dia menarik tangan kekasihnya diajak keluar dari kamar itu. Beng Sin menutupkan lagi daun pintu dan dia sudah menyusul mereka berdua. Dia menjura ke arah Bi Cu.

“Kiranya ayahku telah berdosa pula kepada nona, maka biarlah aku yang mintakan ampun dan menghaturkan terima kasih kepada nona yang telah berbesar hati untuk memaafkannya,”

Berkata demikian, Beng Sin sudah menjatuhkan diri berlutut! Cepat-cepat Sin Liong dan Bi Cu memegang pundaknya dan membangunkannya. Sin Liong merangkulnya.

“Beng Sin, engkau sungguh seorang putera yang amat berbakti dan baik. Bi Cu tidak mendendam, bahkan kami kasihan sekali melihat penderitaan ayahmu. Dia jauh lebih menderita daripada kalau sampai terbunuh oleh orang yang membalas dendam.”

Beng Sin menghela napas.
“Yaah, memang dia sengsara sekali. Setiap kali dia hanya minta ampun dan menantang seperti itu. Agaknya ada dua hal yang menggores hatinya, yaitu penyesalan dan juga sifat angkuhnya yang tidak mau tunduk.”

“Apakah setiap saat dia hanya duduk di dalam kamarnya itu?”

“Kadang-kadang dia keluar, akan tetapi hanya untuk berjalan-jalan di dalam taman di belakang rumah, tak pernah pergi ke lain tempat kecuali dua tempat itu, kamarnya dan taman bunga.”






“Sudahlah,” kata Bi Cu. “Mari kita kembali ke ruangan tamu dan kita bicara dengan gembira. Yang sudah biarlah berlalu, itu adalah urusan orang-orang tua.”

Mereka lalu kembali ke ruangan tamu dimana dua orang dara kembar itu nampak bicara dengan asyik bersama Tiong Pek dan Khai Sun. Biarpun baru saja berkenalan, agaknya nampak ada semacam keakraban antara Khai Sun dan Kui Lan, dan antara Tiong Pek dan Kui Lin!

Lan Lan dan Lin Lin menjadi girang sekali ketika mereka melihat Sin Liong dan Bi Cu kembali tanpa terjadi apa-apa, bahkan Beng Sin kelihatan gembira. Mereka lalu memanggil pelayan dan dua orang dara kembar itu sibuk untuk menjamu para tamu mereka dan tujuh orang muda-mudi itu makan minum sambil bercakap-cakap dan bersendau-gurau seperti lajimnya orang-orang muda yang merasa cocok satu sama lain bertemu dan bercengkerama.

Akan tetapi, selagi mereka bergembira, tiba-tiba terdengar teriakan nyaring dari belakang rumah. Sin Liong yang tercepat di antara mereka sudah meloncat dan lari masuk, terus menuju ke belakang, diikuti oleh yang lain-lain. Dan di tengah-tengah taman bunga di belakang rumah itu kelihatanlah pemandangan yang mengerikan. Kui Hok Boan menggeletak mandi darah, dan di dekatnya menggeletak pula seorang kakek yang tinggi besar dan brewok yang agaknya juga menderita luka hebat akibat pukulan yang mengenai tenggorokannya dan membuatnya muntah darah. Ketika Sin Liong dan orang-orang muda itu tiba disitu, keadaan dua orang itu tidak tertolong lagi.

Pedang kakek brewok itu menembus dada Kui Hok Boan dan agaknya pukulan maut Kui Hok Boan membuat kakek itu tidak mampu bangkit kembali.

Lan Lan dan Lin Lin berseru kaget ketika mereka mengenal kakek brewok itu.
“Dia ini yang dulu menculik kami!” teriak Kui Lin.

Sin Liong juga ingat akan pengalamannya sepuluh tahun yang lalu. Ketika itu terdapat seoranq kakek brewok yang melarikan Lan Lan dan Lin Lin dan kebetulan dia melihat hal itu, maka diapun menyerang kakek itu, menolong Kui Lan dan Kui Lin, dibantu oleh monyet-monyet besar yang menjadi kawan-kawannya. Bahkan monyet betina yang menjadi induknya, yang merawatnya ketika dia masih bayi, tewas oleh kakek brewok ini. Maka dia cepat mendekati, menotok beberapa jalan darah untuk mengurangi penderitaan-nya, lalu bertanya,

“Mengapa kau membunuh paman Kui Hok Boan?” tanyanya.

Orang itu terengah-engah, napasnya tinggal satu-satu.
“Aku... Ciam Lok... puas sudah dapat membalaskan kematian puteriku Ciam Sui Noi... yang dinodai dan ditinggalkannya...” dan kepalanya terkulai.

Matilah orang she Ciam ini, nyawanya menyusul nyawa Kui Hok Boan yang telah mati lebih dulu. Beng Sin, Lan Lan dan Lin Lin hanya dapat menangisi kematian ayah mereka dan mereka lalu mengurus jenazah Kui Hok Boan, dibantu oleh Sin Liong, Tiong Pek dan Khai Sun.

Sin Liong dan Bi Cu tinggal di Su-couw, ikut membantu keluarga Kui yang mengurus pemakaman jenazah Kui Hok Boan. Bahkan Na Tiong Pek dan Ciu Khai Sun yang kini telah menjadi sahabat-sahabat baik keluarga itu, juga membantu sampai selesainya pemakaman.

Kemudian, Sin Liong dan Bi Cu berpamit, meninggalkan Su-couw untuk pergi ke Cin-ling-san. Di tempat ini, mereka disambut keluarga Cin-ling-pai dengan gembira sekali. Sampai beberapa hari lamanya mereka bercakap-cakap dan saling menceritakan pengalaman masing-masing, terutama sekali Sin Liong dihujani pertanyaan-pertanyaan dan anak ini harus menceritakan lagi semua riwayatnya dari kecil sampai dewasa.

Beberapa bulan kemudian, atas persetujuan seluruh keluarga Cin-ling-pai, dilangsungkan pernikahan antara Cia Sin Liong dan Bhe Bi Cu. Pernikahan itu dirayakan dengan amat meriah karena dihadiri oleh hampir seluruh tokoh kang-ouw di empat penjuru, dan juga dihadiri pula oleh banyak tokoh-tokoh besar dari pemerintah di kota raja!

Bahkan Pangeran Hung Chih sendiri berkenan hadir! Semua tamu memandang dengan gembira dan harus mengakui bahwa pasangan pengantin itu memang tepat dan cocok sekali, apalagi melihat betapa dari dua pasang mata pengantin itu memancarkan cahaya penuh cinta kasih kalau mereka saling pandang.

Tidak semua cerita berakhir dengan kebahagiaan. Namun, Sin Liong dan Bi Cu, akhirnya menemui kebahagiaan dalam rumah tangga yang mereka bina bersama dan setiap pasangan sudah pasti akan mengecap kebahagiaan hidup apabila rumah tangga mereka didasari dengan cinta kasih.

Apapun di dunia ini, baik yang oleh umum dipandang sebagai hal yang paling buruk, akan dapat dihadapi dengan tabah dan mudah diatasi apabila suami isteri hidup dalam sinar cinta kasih. Yang umum menganggap kesenangan akan terasa lebih nikmat, dan yang umum menganggap sebagai kesengsaraan akan terasa ringan apabila dihadapi oleh sepasang suami isteri yang saling mencinta.

Beberapa bulan kemudian, pengantin muda dan masih baru ini menghadiri pernikahan yang diadakan di Su-couw, yaitu sekaligus tiga pasang pengantin dirayakan pernikahannya, antara Kui Beng Sin dengan Ciook Siu Lan, Cui Khai Sun dengan Kui Lan, dan Na Tiong Pek dengan Kui Lin!

Demikianiah, cerita ini berakhir dengan catatan bahwa suami isteri Cia Sin Liong dan isterinya, Bhe Bi Cu, kemudian menjadi penghuni dari Istana Lembah Naga, hidup berbahagia di tempat sunyi itu.

Harapan pengarang, semoga cerita Pendeker Lembah Naga ini dapat menghibur hati para pembacanya di waktu senggang dan mengandung manfaat bagi pembukaan kesadaran dan kewaspadaan kita bersama. Sampai jumpa di dalam cerita “Pendekar Sadis” yang merupakan cerita sambungan dari cerita ini.

T A M A T

Pendekar Lembah Naga